Rabu, 13 Januari 2010

"Makalah Seismologi,Gelombang Seismik"

PENDAHULUAN

Ilmu yang mempelajari tentang gempa disebut dengan seismologi. Seismologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu seismos yang berarti getaran atau goncangan dan logos yang berarti risalah atau ilmu pengetahuan. Orang Yunani menyebut gempa bumi dengan kata-kata seismos tes ges yang berarti Bumi bergoncang atau bergetar.  Ilmu ini mengkaji tentang apa yang terjadi pada permukaan bumi disaat gempa, bagaimana energi goncangan merambat dari dalam perut bumi ke permukaan, dan bagaimana energi ini dapat menimbulkan kerusakan, serta proses tumbukan antar lempeng pada sesar bumi yang menyebabakan terjadinya gempa. Dengan demikian, secara sederhana seismologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari fenomena getaran pada bumi, atau dengan kata sederhana, ilmu mengenai gempa bumi. Seismologi merupakan bagian dari ilmu geofisika.
Gempa bumi adalah sebuah fenomena alam yang terjadi karena lapisan tanah di bawah permukaan tanah bergeser secara mendadak. Ketika getaran itu sampai ke permukaan bumi kita akan merasakan guncangan atau pergerakan tanah yang intensitasnya beragam mulai dari getaran lunak, membuat kita limbung, bahkan hingga mengakibatkan hancurnya bangunan kokoh. Kuat atau lemahnya getaran tergantung kekuatan sumber dan jarak titik fokus gempanya.
Guncangan itu sebenarnya berupa gelombang-gelombang yang menjalar menjauhi titik focus gempa kesegala arah di bumi. Ada beberepa gelombang yang terbentuk saat gempa, yang utama dibedakan menjadi gelombang badan dan gelombang permukaan. Gelombang badan terbagi dua yaitu gelombang primer ( Wave-P ) dan gelombang sekunder ( Wave-S ). Sedangkan gelombang permukaan ada dua jenis, yaitu gelombang Love dan gelombang Rayleigh.
Pengetahuan mendalam tentang gelombang sismik ini mutlak diperlukan untuk memahami data seismik umumnya dan interpretasi pada khususnya. Beberapa sifat gelombang seismic akan diketengahkan pada makalah ini.
ISI
Gelombang Seismik
Gelombang seismik adalah rambatan energi yang disebabkan karena adanya gangguan di dalam kerak bumi, misalnya patahan atau adanya ledakan. Energi ini akan merambat ke seluruh bagian bumi dan dapat terekam oleh seismometer.
Efek yang ditimbulkan oleh adanya gelombang seismic dari gangguan alami ( seperti : pergerakan lempeng ( tektonik ),bergeraknya patahan, aktivitas gunung api ( vulkanik ), dsb ) adalah apa yang dikenal sebagai fenomena gempa bumi.
Gelombang seismik adalah bentuk gelombang elastis yang menjalar dalam medium bumi, beberapa medium yang dapat menjalarkan gelombang mempunyai komponen impedans, seismik (atau akustik) impedans Z didefinisikan dalam persamaan:
Z= V ?,
dimana V adalah kecepatan gelombang seismik, dan ? adalah densitas dari batuan. Saat gelombang seismik melewati da medium yang memiiki perbedaan impedans, energi dari gelombang akan di patulkan (reflected) dan yang lainya akan di teruskan (transmitted).
Gelombang seismic digolongkan menjadi dua jenis, yaitu :
1.Gelombang Badan ( body wave )
2.Gelombang Permukaan ( surface wave )
1.1. Gelombang Badan ( Body Wave )
Gelombang badan adalah gelombang yang merambat disela-sela bebatuan dibawah permukaan bumi. Gelombang badan mempunyai intensitas gelombang Ib, jika tidak mengalami kehilangan energi akibat gesekan energi ( Eb ) pada muka gelombang berjarak r dari sumber yang berbentuk luasan setengah bola yaitu 2?r2.
Ada dua jenis gelombang badan, yaitu : Gelombang Primer dan Gelombang sekunder.
1.a. Gelombang primer ( P-waves )
Gelombang primer adalah salah satu dari dua jenis gelombang seismic, sering juga disebut gelombang tanah (dinamakan demikian karena merambat didalam tanah), adalah gelombang yang ditimbulkan oleh gempa bumi dan terekam oleh seismometer. Merupakan gelombang seismik  yang memiliki kecepatan paling tinggi ( 6-7 km per sekon ) dibandingkan gelombang-gelombang seismic lainnya dan pertama kali tiba pada setiap stasiun pengukuran seismik, di mana jenis gelombang berikutnya yang datang dinamakan S-waves atau gelombang sekunder. Hal ini berarti bahwa partikel-partikel yang berada di dalam tanah ( tubuh dari bumi ) memiliki vibrasi-vibrasi sepanjang atau sejajar dengan arah perambatan energi dari gelombang yang merambat tersebut.
di mana
k adalah modulus inkompresibilitas
? adalah modulus geser; dan
? adalah kerapatan bahan di mana gelombang yang dimaksud merambat
Umumnya, variasi kerapatan tidaklah terlalu besar, dengan demikian kecepatan gelombang hampir sepenuhnya bergantung pada nilai k dan ?.
b. Gelombang Sekunder ( S-waves )
Gelombang Sekunder adalah gelomgang transversal yang arah gerakannya tegak lurus dengan arah perambatan gelombang. Gelombang seismik ini merambat di sela-sela bebatuan dengan kecepatan 3,5 km/detik dan bergantung pada medium yang dilaluinya. Hanya dapat menjalar pada batuan yany padat dan pergerakannya naik turun ( up and down ).
Baik gelombang-P atau gelombang-S dapat membantu ahli seismologi untuk mencari letak hiposenter ( kedalaman ) dan episenter ( posisi ) gempa. Kecepatan dari gelombang-P lebih besar daripada gelombang-S ( jika merambat dalam medium yang sama ).
1.2. Gelombang Permukaan ( Surface Waves )
Gelombang permukaan adalah gelombang yang merambat di permukaan bumi, tidak penetrasi ke dalam medium bumi. Mempunyai frekuansi lebih rendah dari gelombang badan, sehingga sifat gelombang tersebut merusak. Gelombang permukaan, jika muka gelombang mencapai jarak r, energi awal ( Es) terdistribusi pada permukaan silinder r dengan luas 2?rd
Ada dua jenis gelombang permukaan, yaitu : Gelombang Rayleigh dan Gelombang Love.
1.a. Gelombang Rayleigh
Diambil dari nama fisikawan Inggris Lord Rayleigh (1842- 1919). Gelombang Rayleigh adalah gelombang yang menjalar di permukaan bumi dengan pergerakan menyerupai ellip. Karena menjalar dipermukaan bumi, amplitude gelombang Rayleigh akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Gelombang Rayleigh dicirikan dengan amplitudonya yang besar ( hamper 2x amplitude refleksi ) dan dicirikan dengan frekuensi rendah.
1.b. Gelombang Love
Gelombang Love adalah gelombang geser ( S wave ) yang terpolarisasi secara horizontal dan tidak menghasilkan perpindahan vertical. Gelombang Love diambil dari nama seorang geofisika Inggris Augustus Edward Hough Love (1863-1940). Kecepatan merambat kedua gelombang permukaan ini selalu lebih kecil daripada kecepatan gelombang P, dan umumnya lebih lambat daripada gelombang S.
Intensitas gelombang adalah energi per volume pada muka gelombang yanmg terdiri dari energi kinetik dan energi potensial :
1.Energi kinetik
2.   Rapat energi rerata suatu siklus harmonic lengkap, terdiri atas energi kinetic dan energi
potensial , diberikan oleh :
KESIMPULAN
1.   Gelombang seismik adalah rambatan energi yang disebabkan karena adanya gangguan di dalam kerak bumi, misalnya patahan atau adanya ledakan. Energi ini akan merambat ke seluruh bagian bumi dan dapat terekam oleh seismometer.
2.   Gelombang badan adalah gelombang yang merambat disela-sela bebatuan dibawah permukaan bumi.
3.   Gelombang primer adalah salah satu dari dua jenis gelombang seismic, sering juga disebut gelombang tanah ( dinamakan demikian karena merambat didalam tanah ), adalah gelombang yang ditimbulkan oleh gempa bumi dan terekam oleh seismometer.
4.   Gelombang Sekunder adalah gelomgang transversal yang arah gerakannya tegak lurus dengan arah perambatan gelombang.
5.   Gelombang permukaan adalah gelombang yang merambat di permukaan bumi, tidak penetrasi ke dalam medium bumi.
6.   Gelombang Rayleigh adalah gelombang yang menjalar di permukaan bumi dengan pergerakan menyerupai ellip.
7.   Gelombang Love adalah gelombang geser ( S wave ) yang terpolarisasi secara horizontal dan tidak menghasilkan perpindahan vertical.


Sumbernya : Dari berbagai buku2 dan Situs2 di internet...SELAMAT MEMBACA DAN BELAJAR!!...GO INDONESIA!!!....
Read rest of entry

" Makalah Proses Pembentukan Batubara "

Proses Pembentukan Batubara
I. Prinsip Sedimentasi
Pada dasarnya batubara termasuk ke dalam jenis batuan sedimen. Batuan sedimen terbentuk dari material atau partikel yang terendapkan di dalam suatu cekungan dalam kondisi tertentu, dan mengalami kompaksi serta transformasi balk secara fisik, kimia maupun biokimia. Pada saat pengendapannya material ini selalu membentuk perlapisan yang horizontal.
II. Skala Waktu Geologi
Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan se lama jutaan tahun.
Kedua konsep tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan batubara vang mencakup proses :
1. Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati.
2. Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa.
3. Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (C02), karbonmonoksida (CO), clan metana (CH4).
4. Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami perlipatan dan patahan. _Selain itu gaya tektonik aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
5. Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.
III. .Faktor-Faktor Dalam Pembentukan Batubara
Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan batubara adalah :
1. Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang lalu, yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim clan topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari batubara yang terbentuk. Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses sedimentasi dari material dasar menjadi material sedimen.
2. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut :
• Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar diendapkan. Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada kondisi dan posisi geotektonik.
• Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat cekungan pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan pada saat pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di mana batubara terbentuk. Topografi dan morfologi dapat dipengaruhi oleh proses geotektonik.
• Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau tumbuhan sebelum proses pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh kondisi topografi setempat.
3. Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material dasar pembentuk batubara menjadi batubara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang terendapkan akan mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia.
4. Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa lama material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk material yang diendapkan dalam skala waktu geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang terjadi adalah fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon yang tinggi.
5. Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu lapisan batubara dari :
• Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan batubara yang terbentuk.
• Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil, lipatan, atau patahan.
• Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan batubara yang dihasilkan.
Keseluruhan faktor tersebut di atas sangat berpengaruh terhadap bentuk, kenehalan, maupun kualitas dari lapisan batubara.
Material Dasar
Geotektonik Lingkungan Pengendapan:
- Tekanan – Cekungan
- Struktur Coal – Topografi
- Intrusi – Iklim
Proses Dekomposisi
Dan Umur Geologi
IV. Komposisi Kimia Batubara
Batubara merupakan senyawa hidrokarbon padat yang terdapat di alam dengan komposisi yang cukup kompleks. Pada dasarnya terdapat dua jenis material yang membentuk batubara, yaitu :
1. Combustible Material, yaitu bahan atau material yang dapat dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari :
• karbon padat (fixed carbon)
• senyawa hidrokarbon
• senyawa sulfur
• senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah kecil.
2. Non Combustible Material, yaitu bahan atau material yang tidak dapat dibakar/dioksidasi
oleh oksigen. Material tersebut umumnya terediri dari aenvawa anorganik (Si02, A1203, Fe203, Ti02, Mn304, CaO, MgO, Na20, K20, dan senyawa logam lainnya dalam jumlah yang kecil) yang akan membentuk abu/ash dalam batubara. Kandungan non combustible material ini umumnya diingini karena akan mengurangi nilai bakarnya.
Pada proses pembentukan batubara/coalification, dengan bantuan faktor ti:ika dan kimia alam, selulosa yang berasal dari tanaman akan mengalami pcruhahan menjadi lignit, subbituminus, bituminus, atau antrasit. Proses transformasi ini dapat digambarkan dengan persamaan reaksi sebagai berikut
5(C6Hlo05) C20H2204 + 3CH4 + 8H,0 + 6C02 + CO
Selulosa lignit gas metan
6(C6H1005) C22H2003 + 5CH4 + 1OH20 + 8C02 + CO
Cellulose bituminous gas metan
Untuk proses coalification fase lanjut dengan waktu yang cukup lama atau dengan bantuan pemanasan, maka unsur senyawa karbon padat yang terbentuk akan bertambah sehingga grade batubara akan menjadi lebih tinggi. Pada fase ini hidrogen yang terikat pada air yang terbentuk akan menjadi semakin sedikit.
V. Lingkungan Pengendapan Batubara
V.1. Interpretasi Lingkungan Pengendapan dari Litotipe dan Viikrolitotipe
Tosch (1960) dalam Bustin dkk. (1983), Teichmuller and Teichmuller (1968) dalam Murchissen (1968) berpendapat bahwa litotipe dan mikrolitotipe batubara berhubungan erat dengan lingkungan pengendapannya. Lingkungan pengendapan dari masing-masing litotipe adalah sebagi berikut :
1. Vitrain dan Clarain, diendapkan di daerah pasang surut dimana terjadi perubahan muka air laut.
2. Fusain, diendapkan pada lingkungan dengan kecepatan pengendapan rendah, yaitu lingkungan air dangkal yang dekat dengan daratan.
3. Durain, diendapkan dalam lingkungan yang lebih dalam lagi, diperkirakan lingkungan laut dangkal.
Sedangkan interpretasi lingkungan pengendapan berdasarkan mikrolitotipe adalah sebagai berikut :
1. Vitrit, berasal dari kayu-kayuan seperti batang, dahan, akar, yang menunjukkan lingkungan rawa berhutan.
2. Clarit, berasal dari tumbuhan yang mengandung serat kayu dan diperkirakan terbentuk pada lingkungan rawa.
3. Durit, kaya akan jejak jejak akar dan spora, hal ini diperkirakan terbentuk pada lingkungan laut dangkal.
4. Trimaserit, yang kaya akan vitrinit terbentuk di lingkungan rawa, sedangkan yang kaya akan liptinit terbentuk di lingkungan laut dangkal clan yang kaya akan inertinit terbentuk dekat daratan.
V.2 Lingkungan Pengendapan Batubara
Pembentukan batubara terjadi pada kondisi reduksi di daerah rawa-rawa lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk pada lingkungan paralik. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, laguna, delta, dan fluviatil.
Di dataran pantai, pengendapan batubara terjadi pada rawa-rawa di lelakang pematang pasir pantai yang berasosiasi dengan sistem laguna ke arah darat. Di daerah ini tidak berhubungan dengan laut terbuka sehingga efek oksidasi au laut tidak ada sehingga menunjang pada pembentukan batubara di daerah rawa-rawa pantai.
Pada lingkungan delta, batubara terbentuk di backswamp clan delta plain. Se-dangkan di delta front dan prodelta tidak terbentuk batubara disebabkan oleh adanya pengaruh air laut yang besar clan berada di bawah permulcaan air laut.
Pada lingkungan fluviatil terjadi pada rawa-rawa dataran banjir atau ,th.-alplain dan belakang tanggul alam atau natural levee dari sistem sungai yang are-ander. Umumnya batubara di lingkungan ini berbentuk lensa-lensa karena membaii ke segala arah mengikuti bentuk cekungan limpahnya.
1. Endapan Batubara Paralik
Lingkungan paralik terbagi ke dalam 3 sub lingkungan, yakni endapan lmuhara belakang pematang (back barrier), endapan batubara delta, endapan Dwubara antar delta dan dataran pantai (Bustin, Cameron, Grieve, dan Kalkreuth,
Ketiganya mempunyai bentuk lapisan tersendiri, akan tetapi pada , wnumnya tipis-tipis, tidak menerus secara lateral, mengandung kadar sulfur, abu dar. nitrogen yang tinggi.
2. Endapan Batubara Belakang Pematang (back barrier)
Batubara belakang pematang terakumulasi ke arah darat dari pulau-pulau pcmatang (barrier island) yang telah ada sebelumnya dan terbentuk sebagai ai.:hat dari pengisian laguna. Kemudian terjadi proses pendangkalan cekungan antar pulau-pulau bar sehingga material yang diendapkan pada umumnya tergolong ke dalam klastika halus seperti batulempung sisipan batupasir dan batugamping. Selanjutnya terbentuk rawa-rawa air asin dan pada keadaan ini cn.iapan sedimen dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga moluska dapat berkembang dengan baik sebab terjadi pelemparan oleh ombak dari laut terbuka le laguna yang membawa materi organik sebagai makanan yang baik bagi penghuni laguna. Sedangkan endapan sedimen yang berkembang pada umumnya tcrdiri dari perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara dan batugamping. Struktur sedimen yang berkembang ialah lapisan bersusun, silang siur dan laminasi halus. Endapan batubara terbentuk akibat dari meluasnya Nrmukaan rawa dari pulau-pulau gambut (marsh) yang ditumbuhi oleh tumbuhan air tawar.
3. Endapan Batubara Delta
Berdasarkan bentuk dataran deltanya, batubara daerah ini terbentuk pada beberapa sub lingkungan yakni delta yang dipengaruhi sungai, gelombang pasang surut. dataran delta bawah dan atas, dan dataran aluvium. Kecepatan pengendapan sangat berpengaruh pada penyebaran dan ketebalan endapan batubara. Batubara daerah ini tidak menerus secara lateral akibat dari perubahan fasies yang relatif pendek dan cepat yang disebabkan oleh kemiringan yang tajam sehingga ketebalan dan kualitasnya bervariasi. Pada umumnya batubara tersebut berasal dari alang-alang dan tumbuhan paku.
4. Endapan Batubara Antar Delta dan Dataran Pantai
Batubara daerah ini terbentuk pada daerah rawa yang berkembang di :jerah pantai yang tenang dengan water table tinggi dan pengaruh endapan liaaik sangat kecil. Daerah rawa pantai biasanya banyak ditumbuhi oleh :umbuhan air tawar dan air payau. Batubara ini pada umumnya tipis-tipis dan secara lateral tidak lebih dari 1 km.
Batubara lingkungan ini kaya akan abu, sulfur, nitrogen, dan mengandung fosil laut. Di daerah tropis biasanya terbentuk dari bakau dan kaya sulfur. Kandungan sulfur tinggi akibat oleh naiknya ion sulfat dari air laut dan oleh salinitas bakteri anaerobik.

Sumbernya : Dari berbagi buku2 dan situs2 di internet.thx u. SELAMAT MEMBACA N BELAJAR!!!...GO INDONESIA!!!...
Read rest of entry

" Udah lama gk nulis blog aq lg!!!"

Alow semua bloggers yg up to date sekalian..apa kbrny??..mudah2an semuanya dlm keadaan sht2 aja nie...
dah lm ni gk nulis2 n crat coret d blog gw ni..coz q sinuk bgt dgn kehidupan kmpus...dari tugas2,,bwt proposal tgs akhir,proposal kerja praktek,jadi ketua EBG 2010 ini pula...huft...belum ngebantuin dosen2ku tercinta dikampus,,,permalasahanku dgn makhluk Tuhan paling seksi di Dunia ini,,,permasalahan2 yg dtg dr kelurgaku,,,semua sangat menyita waktuku...Tapi aku selalu berusaha dan berpegang kepada Tuhanku yaitu Sang Jurus Selamatku,,,hehe,,,
aq juga kgn sm yg namanya Ngegoesss n jalan2 naik turun gunung bloggers...Btw bloggers semua suka ngegoess n naik gunung juga gk???hahaha....Ayo kita ngegoess bareng n naik gunung bareng juga...hehehe...
Oya aq ada rencana mau naik Gunung Merapi n Gunung Rinjani ni!!!...bloggers smua ada yg mau ilut gk ni??...Oya bloggers mania doain yaa semoga tercapai apa yg aq inginkan kedepannya..Menaklukan puncak tertinggi di YOGYAKARTA N Puncak tertinggi ke berapa ya klo gunung Rinjani itu????hahaha...gw lupa ni!!!...
Dah dulu ya...bwt nulis blogger aq hari dan waktu ini!!!!...hehehehe...
Read rest of entry

Kamis, 26 November 2009

"Mahakam Delta Form Alien And Mercier, 1994"

The Mahakam delta exhibits a symmetrical fan-shaped morphology typical of fluvial-dominated deltas accumulating in shallow water. The delta plain is densely vegetated and incised by fluvial distributaries and tidal channels. The fluvial distributaries are rectilinear and bifurcate seaward from the Mahakam river. They are groped into a northern system and a southern distributary system while the central part of the delta forms a tide-dominant interdistributary zone characterized by sinuous, esturarine-like tidal channels (Allen & Mercier, 1994)

The general morphology of the delta can be divided into three radially concentric systems: the delta plain, delta front, and prodelta.
Read rest of entry

"Kenampakan Geologi Lapisan Batubara"

Perkembangan kenampakan geologi di sekitar lapisan batubara disebabkan oleh proses-proses yang terjadi pada lapisan gambut, sifat fisika dan kimia lapisan batubara itu sendiri serta material bukan batubara yang berbeda-beda. Macam-macam kenampakan geologi pada lapisan batubara, antara lain :

Plies, bands dan partings
Lapisan batubara bisa terdiri dari batubara dengan tipe berbeda, atau terdiri dari material bukan batubara yang beraneka ragam. Kehadiran lapisan batubara ini dapat digunkan untuk membagi lapisan batubara kedalam satuan yang lebih kecil disebut “ benches, atau plies”.
Lapisan bukan batubara disebut ”bands”, atau “partings”. Istilah seperti “clay bands” atau dirt bands” kadang digunakan untuk menggambarkan material dari suatu litologi. Ada juga istilah “penny bands” untuk mengindikasikan ketebalan.
Litologi dari beberapa bands menurut istilah Jerman disebut tonstein (secara kepustakaan disebut claystone) atau istilah Amerika disebut “flint clay” paling umum digunakan dimana material memiliki tekstur peletoidal atau menunjukkan pecahan konkoidal dan didominasi oleh mineral kaolin yang mengkristal dengan baik.
Penegertian parting digunakan di lapangan geologi batubara menjadi 2 macam :
1.sebagai sinonim band, yaitu lapisan bukan batubara yang memisahkan lapisan batubara yang satu dengan yang lain secara relatif.
2.untuk menjelaskan bidang sejajar sepanjang satu lapisan, baik itu lapisan batubara atau lapisan bukan batubara secara fisik dengan mudah.
Perbedaan pengertian ini penting dijelaskan dalam kegiatan persiapan penambangan seperti adanya lapisan batubara yang bercabang akan mempengaruhi penggalian atau penambangannya. Istilah “plane of parting” mungkin cocok untuk menggambarkan suatu bidang yang tidak menerus akibat gangguan sesar atau splitting.
“Bands” merupakan lapisan yang terdiri dari material yang bukan batubara, terjadi karena suplai akumulasi sedimen klastik telah melebihi akumulasi gambut. Sedimen klastik ini mungkin menunjukkan endapan over bank atau dataran banjir yang berasal dari sungai yang terdekat atau dari debu vulkanik yang berasal dari sumber di luar lingkungan rawa. Ini mungkin juga dibentuk oleh mineral residu gambut yang teroksidasi, seperti yang terjadi akibat pengeringan rawa selama waktu terbentuknya batubara.
“Plies” merupakan kumpulan dari maseral yang berbeda atau berasal dari bermacam sifat dasar tumbuhan rawa atau lingkungan pengendapannya selama pembentukan batubara.
Plies atau bands bukan batubara tidak selalu membentuk lapisan yang seragam dan tetap, khususnya jika mencakup daerah yang luas.
Penentuan pola ply yang baik dapat memberikan keuntungan yang besar dalam menjelaskan arah kualitas batubara di dalam operasi penambangan. Tentunya membutuhkan sejumlah besar data bawah permukaan atau data bor, data petrografi batubara yang dapat untuk menunjang sejumlah analisis “ply by ply”.

Splits dalam lapisan batubara
Kemenerusan lateral lapisan batubara di lapangan sering terbelah pada jarak yang relatif dekat oleh sedimen bukan batubara yang membaji kemudian membentuk dua lapisan batubara yang terpisah dan disebut autosedimentational split. Macam-macam bentuk spilt :
1.Simple splitting
Adalah split sederhana yang terjadi akibat kehadiran tubuh lentikuler yang besar dari sedimen bukan batubara.
2.Proggresif splitting
Bila terdiri dari beberapa lensa, maka splitting dapat berkembang secara terus menerus.
3.Zig zag splitting
Terjadi pada suatu lapisan batubara yang terbelah dan kemudian bergabung dengan lapisan batubara lain.
Split sangat penting dalam geologi batubara. Pemahaman yang baik tentang split dapat membantu dalam penentuan sebaran lapisan batubara yang ekonomis, dan perhitungan cadangan. Bentuk split dengan kemiringan 45o yang disertai oleh perubahan kekompakan pada batuan akan menimbulkan masalah dalam kegiatan tambang terbuka, kestabilan lereng, dan kestabilan atap dalam penambangan bawah tanah.

Washout dan roof rolls
“Washout” merupakan tubuh lentikuler sedimen, biasanya batupasir, yang menonjol ke bawah dan menggantikan sebagian atau seluruh lapisan batubara yang ada. Umumnya memanjang atau berbelok-belok, dan menggambarkan struktur scour and fill dibentuk oleh aktivitas channel berasosiasi dengan akumulasi gambut.
Ukuran washout bervariasi baik tebal maupun pelamparannya. Washout mungkin dengan luas yang kecil, channel yang tidak beraturan pada atap lapisan, biasanya disebut roof rolls sebagai akibat palechannel utama.
Sebagian besar struktur washout diisi oleh batupasir, meskipun kerikil batubara atau konglomeratt kerikilan dapat juga hadir. Hal ini mencerminkan meander cut off dan paleochannel.
Washout dan roof rolls merupakan masalah utama dalam operasi penambangan. Ketebalan lapisan dan ketidakmenerusan lapisan batubara akibat terisi channel, sehingga itu tentu memerlukan kebijaksanaan. Demikian juga dengan peralatan yang digunakan untuk menggali batubara sering menemui kesulitan untuk menembus material bukan batubara yang telah menggantikan posisi lapisan batubara, terutama pada tambang bawah tanah.
Struktur washout merupakan bagian mendasar dalam penelitian geologi untuk kepentingan perencanaan penambangan dan pengembangannya.

Floor rolls
Floor roll terdiri dari material batuan yang berupa punggungan, panjang, sempit, dan subparalel, yang menonjol kedalam lapisan batubara dari dasar lapisan. Seperti halnya roof rolls, floor roll akan mangakibatkan ketebalan lapisan batubara berkurang.
Floor roll sering diterangkan sebagai intrusi lapisan ke dalam lapisan lain akibat pengembangan hidrasi and aktivitas tektonik. Menurut Diessel dan Moelle (1970), roof roll dibentuk oleh kegiatan sungai selama tahap awal akumulasi tanah gambut.

Clastic dyke dan injection struktures
“Clastic dyke” merupakan tubuh membaji atau melembar dari material sedimentasi yang memotong melintang lapisan batubara.
Pada umumnya menunjukkan pengisian retakan-retakan dalam gambut atau batubara oleh endapan sedimen diatasnya. Retakan ini dapat berhubungan dengan kekar atau pergerakan sesar minor dan hal ini dapat menambah masalah tentang kestabilan lapisan atap di dalam operasi penambangan bawah tanah (Ellenberger, 1979; Krause et al 1979).meskipun kebanyakan struktur ini menyerupai endapan roof roll, tampak beberapa pembebanan yang tidak menerus dari tanah gambut lunak oleh material pasir. Lapisan-lapisan batubara melengkung akibat pembebanan, sementara material pengisi yang biasanya terlipat dan terubah bentuknya (Nelson, 1979 dalam Ward, 1984). Struktur ini umumnya menyertai sesar-sesar, dan kekar-kekar, serta struktur ini pun menyebabkan ketidakstabilan pada penambangan bawah tanah.

Cleat
Pengkekaran dalam batubara, khususnya batubara bituminous, umumnya menunjukkan pola cleat. Hal ini ditunjukkan oleh serangkaian retakan yang sejajar, biasanya berorientasi tegak lurus perlapisan. Satu rangkaian retakan disebut “ face cleat”, biasanya dominan dengan bidang individu yang lurus dan kokoh sepanjang beberapa meter. Pola lainnya yang disebut “ butt cleat” , retakannya lebih pendek, sering melengkung dan cenderung berakhir pada bidang face cleat.jarak antar bidang cleat bervariasi dari 1mm sampai sekitar 30 cm. Bidang cleat sering diisi oleh unsur mineral atau karbonat, lempung, jenis sulfida, atau sulfat dapat secara umum nampak pada permukaan batubara yang mengelupas.
Orientasi face cleat merupakan salah satu faktor penting di dalam pengontrolan perencanaan penambangan bawah tanah. Demikian juga untuk operasi penambangan yang menggunakan alat bajak atau hidrolik, maka arah penbambangan dan hubungannya dengan pola cleat sangat mempengaruhi dalam kemudahan penggalian batubara.
Jarak cleat juga berpengaruh terhadap ukuran partikel batubara yang dihasilkan, apakah berupa fine coal atau lumpy coal. Hal ini penting dalam perencanaan tambang karena berkait dengan aspek penumpukan, pengangkutan, pemanfaatan, harga dan pemasaran. Pola cleat dapat juga dhubungkan dengan terjadinya ledakan gas dalam tambang bawah tanah.
Terjadinya cleat pada hubungannya dengan pola kekar pada lapisan pembawa batubara, sehingga dapat digunakan untuk menghubungkan pula cleat dengan struktur geologi suatu daerah. Face cleat tampaknya sangat umum sebagai hasil dari perpanjangan rekahan dalam bidang sejajar dengan paleostress kompresif maksimum suatu daerah ( Nickelsen & Hough 1967; Hanes & Shepherd 1981), meskipun melibatkan faktor lain seperti gangguan shear, tetapi dikatakan juga bahwa pembentukan butt cleat kurang jelas, mungkin berkaitan dengan sejarah pembentukan batubara dan proses pengendapan dari lapisan-lapisan yang bersangkutan.

Intrusi batuan beku pada lapisan batubara
Karena material organik dalam batubara mengalami perubahan mendasar apabila dipanaskan, adanya intrusi batuan beku memiliki pengaruh yang besar pada lapisan batubara daripada yang dialami oleh batuan bukan batubara. Batubara yang dekat dengan tubuh intrusi batuan beku, secara lokal meningkat derajatnya sehubungan dengan meningkatan panas yang menyertainya.
Intrusi batuan beku biasanya berkembang menjadi komplek, dimana pada titik pertemuan antara tubuh intrusi dengan lapisan batubara membentuk kontak yang meliuk. Hal ini berhubungan dengan perilaku plastik dari bahan organik karena pemanasan serta berkurangnya kandungan air didalam batubara.
“Cinder coal” (batubara terarangkan) akibat intrusi, biasanya lemah, massanya porous dengan pola belahan hexagonal. Dalam banyak hal cinder coal kurang mempunyai nilai ekonomi, dengan demikian cinder menunjukkan hilangnya sebagian lapisan batubara yang dapat ditambang. Dari sudut peningkatan derajat batuabara, mungkin lebih menguntungkan dari segi ekonomi jika pengaruh cinder coal tidak terbentuk.

Batuan yang biasanya berasosiasi dengan lapisan batubara
Batuan yang sering ditemukan di dalam atau dekat dengan lapisan batubara adalah batuan sedimen klastika halus seperti batulempung, batulanau, serpih dan batupasir. Juga kaolin seperti “flint clay” dan “underclay” material siliceous seperti chert dan gannister serta endapan ferrigenous seperti mudstone siderit dan clay ironstone termasuk yang berasosiasi dengan batubara.
Beberapa material di atas hanya diminati secara akademik, tetapi sekarang mulai diperhatikan karena mempunyai arti industri, seperti underclay.
Struktur sedimen sangat membantu didalam interpretasi lingkungan pengendapan dan yang banyak dijumpai berasosiasi dengan lapisan batubara adalah perlapisan silangsiur, laminasi sejajar, laminasi bergelombang, laminasi karbonan (carbonaceous laminae), coal strings, konkresi, dan cetak beban.

Batulempung kaolinit
Istilah batulempung kaolinit digunakan oleh Loughnan (1978) untuk menggambarkan sebuah individu khusus dari batuan sedimen masif yang terbentuk dari mineral lempung kaolin.
Tekstur batuan ini bervariasi, berikut ini adalah tekstur pokok dalam batulempung kaolinit :
1.Breksiasi, materialnya terbentuk dari clast-clast batulempung angular penecontemporaneous, dapat mencapai diameter sampai beberapa cm.
2.Pelletal, batuannya terbentuk dari partikel-partikel batulempung yang bulat atau agrerat lempung, berukuran silt (kadang disebut graupen) sampai partikel spheroidal yang berdiameter 10 mm atau lebih.
3.Oolitik, terdiri dari oolitik spheroidal yang terlapisi secara konsentris oleh material yang kaya kaolin.
4.Masif, merupakan mudstone yang berkembang dengan baik, terisi oleh kumpulan kristal kaolin yang ventikular dalam bagian yang tipis.
Batuan ini disebut juga “flint clay” (Keller, 1967) dan “tonstein (Moore, 1964).
Kaolin merupakan mineral yang melimpah dalam batuan ini, biasanya terjadi dalam bentuk kristal dan berasosiasi dengan sejumlah kecil kuarsa, siderit atau illit. Variasi batuannya berwarna putih sampai coklat keabu-abuan atau hitam tergantung dari bahan karbonan dan material ferrugenous yang mungkin ada. Hal ini kadang digambarkan sebagai tuf.
Asal usul batulempung kaolinit telah lama menjadi topik yang kontroversial dalam literatur ilmiah. Tinjauan komprehensif tentang terjadinya material secara petrografi dan geokimia diberiakan oleh Keller (1968, 1981) dan Loughnan (1978). Secara mekanik dijelaskan mengenai kekhususan mineral dan ciri-ciri teksturnya dibandingkan dengan sedimen lain dalam sekuen dimana batuan tersebut terbentuk, dikelompokkan dalam 2 kategori, yaitu :
1.Autochthonous Origin
Meliputi pembentukan insitu dari kaolin dalam rawa batubara atau lingkungan lain yang serupa karena perubahan kimiawi atau biokimiawi dari sedimen volkaniklastik, epiklastik, atau bioklastik. Mekanisme seperti ini dibahas oleh Hosterman (1962), Moore (1964, 1968), Keller (1968, 1981), Price dan Duff (1969).
2.Allochthonous Origin
Meliputi pembentukan kaolin, bauksit, atau aluminosilikat koloid karena pelapukan di luar rawa dan tertransport ke dalam rawa atau areal yang sesuai untuk pengemdapan akhir detritus kasar. Suatu mekanisme dari tipe ini dibahas oleh Loughnan (1970, 1975, 1978).
Menurut Ward (1978), perlapisan tipis batulempung kaolinit yang terjadi didalam lapisan batubara atau di dalam sekuen lapisan pembawa batubara secara luas telah digunakan sebagai lapisan penunjuk untuk korelasi stratigrafi.

Seat rock dan underclay
Batuan alas pada lapisan batubara terbentuk dari material yang sangat bervariasi, termasuk serpih, mudstone, batugamping dan batupasir. Lapisan ini biasanya masif tidak berlapis dan mungkin terdiri dari bekas akar tumbuhan yang tegak terhdap perlapisan atau memperlihatkan pola yang tidak teratur dari permukaan yang tergerus. Umumnya berwarna muda, tetapi material yang lebih gelap berwarna abu-abu dan coklat mungkin dapat muncul.
Karena terjadi di bawah lapisan batubara dan hadirnya akar tumbuhan dalam posisi tumbuh (relatif tegak terhadap bidang perlapisan) maka dikenal dengan “seat earth’’ atau “underclay”. Istilah lebih umum “seat rock” digunakan oleh Huddle dan Patterson (1961), baik untuk endapan berbutir kasar maupun halus.
Seat rock yang batuannya bervariasi dari batupasir kuarsa dan batulanau disebut dengan “ gannister”. Di lapangan batubara (coal field) di Eropa dan Inggris diterapkan untuk batulempung kaolin berbutir halus atau “ flint clays”. Dibanyak tempat, gannister tersusun oleh mudstone plastic dengan kuarsa, illit, monmorilonit, kaolinit, dan mineral lempung lain yang didapat dari studi detil (Odom dan Perham, 1968). Kalsit, siderit dan pirit mungkin juga hadir pada beberapa bagian dari lapisan gannister ini.
Ketebalannya bisa bervariasi dari beberapa cm sampai 10 m, tetapi biasanya sekitar 1 m. umumnya mempunyai kontak yang tegas dengan lapisan di atasnya, tetapi dapat juga bergradasi secara vertikal maupun lateralmenjadi batuan lain seperti batupasir, serpih, batugamping, dan batubara.
Sebagai tambahan, tidak semua lapisan ini ditumpangi batubara, misalnya apabila tanah peat tidak terakumulasi atau tererosi, sehingga istilah underclays dan seat earth mungkin menyesatkan. Juga pada batubara allochthonous, lapisan gannister tidak selalu hadir.
Asal mula batuan seat yang dianggap sebagai tanah atau substratum tempat tumbuhan tumbuh dan berkembang. Meskipun nampaknya seperti itu, namun pada saat tanah peat terakumulasi sampai ketebalan tertentu, akar tumbuhan dapat masuk ke dalam debris organiknya sendiri. Atas dasar alasan tersebut, ketebalan dan karakteristik batuan seat kurang menunjukkan adanya hubungan yang diendapkan di atasnya.
Tumbuhnya tumbuhan juga dapat berperan sebagai sebab tidak ada perlapisan di dalam bagian batuan serat, sementara kekompakan di sekitar struktur akar dapat berperan sebagai sebab banyaknya permukaan yang licin. Meskipun akumulasi lempung di perairan rawa, rupanya juga terkumpul dan proses kompaksi material semacam ini dapat meningkatkan berkembangnya permukaan licin.
Pada banyak seat cenderung diperkaya oleh kaolin dibandingkan dengan lutite dalam suatu sekuen. Hal ini mencerminkan proses semacam pelindian kimiawi atau biologis yang berasosiasi dengan pertumbuhan tumbuhan dan pembusukan tanah peat (Huddle dan patterson, 1961). Proses pembentukan kaolin denagn persyaratan ini kemungkinan sama dengan proses yang berasosiasi dengan batulempung kaolin murni dan proses pembentukan kaolin di dalam batubara itu sendiri.
Batubar seat berbutir halus dapat untuk bahan baku berbagai macam produk yang berasal dari batulempung (Odom dan Parham, 1968), disebut juga dengan “fireclays”.
Sifat batuannya yang plastis serta terdiri dari bermacam material, maka diperlukan pemahaman yang baik bila dilakukan penambangan bawah tanah.

Coal balls
Coal balls merupakan massa yang berbentuk tidak teratur sampai bentuk spheroidal dari bahan mineral yang terjadi di dalam suatu lapisan batubara. Umumnya terbentuk dari kalsit, dolomit, siderit, dan pirit dalam proporsi yang bervariasi, kadang menunjukkan suatu zonasi yang bervariasi dari beberapa cm, m sampai luas. Bila kaya pirit disebut “sulphur balls’.

Coal balls dapat sebagai sumber penelitian paleobotani lapisan batubara (Phillips, 1979), karena sisa tumbuhan terawet dengan baik dari berbagai jenis di dalam coal balls.

Tidak adanya pengaruh kompaksi pada fragmen organik, menunjukkan bahwa coal balls mengandung bahan mineral pada tahap awal pembentukannya. Tentu saja, batubara yang terbentuk juga dapat memperlihatkan bukti adanya kompaksi lipatan di sekitarnya. Sangat umum ditentukan di dalam lapisan yang berasosiasi dengan lapisan marin, juga sebagai konkresi hadir pada lapisan atap maupun lapisan dasar.

Sumber dari : Ward, C.R., 1984, Coal Geology and Coal Technology, Blackwell Scientific Publications, Singapore. Dan Kuncoro, P., 1996, Model Pengendapan Batubara untuk menunjang Ekspolorasi dan Perencanaan Penambangan, ITB, Bandung.
Read rest of entry

"Geometri Coal Batubara"

TERJADINYA BATUBARA

2.1.1 Tatanan Cekungan Pengendapan Batubara
Batubara terjadi ketika penipisan lapisan relatif mengarah secara lateral. Lapisan-lapisan mencakup hingga ke dimensi mikroskopik, tetapi batubara telah ditambang hingga pada ketebalan sekitar 250 mm. Dimana penambangan dengan open pit berlangsung, lapisan hingga sekitar 100 mm kemungkinan ditambang sejak pemindahan batuan penutup. Ketebalan ekonomis minimum untuk lapisan pada saat ini secara tipikal/khas sekitar 1 m. Ketebalan lapisan batubara maksimum mencapai diatas 300 m, walaupun lapisan tertebal ikut ditambang yang mungkin terjadi di Morwell dimana ketebalan diatas 105 m.

Ketebalan dasar lapisan batubara secara tipikal sekitar 1 m. Batubara yang lebih tebal biasanya lebih murah dan lebih mudah untuk ditambang. Oleh karena itu mereka cenderung untuk ditambang pada awal penambangan batubara. Batubara yang sangat tebal merupakan bagian yang sangat kecil dari total jumlah lapisan batubara. Lapisan batubara yang tebal lebih umum pada jenis tertentu suatu cekungan pengendapan dan dalam beberapa zaman.

Areal luasan lapisan batubara adalah variabel, tetapi lapisan yang lebih menerus mungkin terjadi di atas suatu area 10,000 km2. Dalam beberapa jenis cekungan pengendapan areal luasannya sangatlah sedikit, terukur sepuluh km2. Lapisan batubara yang semakin luas terjadi di dataran pantai dan pada setting deltaic. Distribusi yang semakin terbatas cenderung untuk terjadi pada cekungan yang dibatasi oleh sesar, yang biasanya dari suatu inter-montane alam[i].

Lapisan batubara saling berkaitan dengan suatu lapisan bukan batubara yang biasanya dikenal sebagai parting untuk membentuk ukuran batubara. Parting dapat mencapai ketebalan kurang dari 1 m hingga lebih dari 100 m. Ketebalan dasar biasanya antara 15 dan 20 m. Didalam urutan ukuran batubara yang sangat tebal, hal itu umum untuk kualitas lapisan terbaik yang akan dibatasi untuk suatu proporsi kecil dari total interval. Hal ini juga secara normal merupakan kasus yang hanya satu seperti itu interval optimal hadir. Diatas dan dibawah itu, batubara cenderung untuk menjadi lebih tipis dan berkualitas lebih rendah. Sebagian dari lapisan yang sangat tebal berisi parting dengan kelimpahan mineral dan dengan begitu mutu menjadi lebih rendah.

Lapisan batubara dan parting mempunyai suatu distribusi tebal yang dikendalikan oleh proses yang terjadi di dalam cekungan yang mengalami penurunan dengan sedimentasi aktif. Banyak sifat yang terlihat sebagai suatu hasil proses yang tidak bisa dipisahkan dalam pengembangan delta sungai.

Lapisan yang berasosiasi dengan lapisan batubara secara khas yaitu batupasir, batulanau dan batulempung, konglomerat dan batugamping juga terjadi dalam beberapa urutan lapisan pembawa batubara. Energi sistem pengangkutan tercermin dalam ukuran butir sedimen berhubungan dengan batubara. Batubara dapat berhubungan dengan urutan yang secara dominan lempung atau secara dominan konglomerat. Mereka juga terjadi sebagai urutan dengan marine incursion yang umum seperti halnya hal itu satu-satunya berisi jenis sedimen terestrial.

Siklus sedimentasi dikenali pada kebanyakan urutan lapisan pembawa batubara. Siklus dapat simetris (ABCBABCBA) atau tidak simetri (ABCABCABC), yang paling umum adalah yang terakhir. Siklus adalah bukti oleh suatu kecenderungan untuk urutan yang spesifik untuk hadir, siklus yang sangat berurutan hampir selalu berbeda dalam hal-hal tertentu. Sifat alami siklus biasanya bervariasi secara lateral dan vertikal yang ditentukan satuan pembawa batubara dan bervariasi antara pembawa batubara yang berbeda. Hal itu tidak diakibatkan oleh suatu satuan kondisi satu pengendapan tetapi lebih dari suatu kecenderungan umum untuk beberapa bentuk urutan untuk berkembang lebih umum dibanding lainnya.

Batubara membentuk suatu bagian integral suatu siklus. Proses pembentukan gambut, pembentukan sungai dan pengisian dan migrasi sungai, semua cenderung untuk mengakibatkan urutan diulangi. Ini adalah proses endogen (internal). Siklus juga dipengaruhi oleh proses eksogenous seperti perubahan muka air laut dan dalam beberapa hal efek eustatic mungkin memberikan beberapa kendali. Tingkat dan komplek alami pemisahan lapisan batubara menunjukkan bahwa kebanyakan dari kendali merupakan kendali internal.

Di dalam lapisan batubara, siklisitas juga hadir. Ini nampak seperti dalam kaitan dengan perubahan di dalam proses pembentukan gambut dan pengendapan dari lapisan pengotor. Lapisan pengotor adalah suatu bagian integral dari urutan di dalam lapisan batubara. Siklus antar lapisan mudah untuk dilihat pada kebanyakan batubara pre-Tertiary tetapi tidaklah biasa dilihat di kebanyakan batubara berumur Tersier. Hal ini hadir dalam beberapa derajat yang sangat rendah. Batubara Tersier (CekunganGippsland Australia, dan Asem Asem Kalimantan) maka itu kemungkinan bagian dari Batubara yang lebih Tersier tetapi sukar untuk dibedakan pada derajat yang lebih tinggi.

Lapisan pembawa batubara dibentuk dalam sejumlah tatanan tektonik yang berbeda. Hal ini ditunjukkan Tabel 3.1 dengan beberapa karakteristik khas pembawa batubara terukur.

Setting Retro-Arc adalah yang paling umum dikenali, secara parsial sebab dihubungkan dengan sebagian dari yang terbaik yang dikenal untuk daerah batubara (coalfield) seperti di Carboniferous Eropa dan Amerika Utara. Urutan cenderung untuk;menjadi sangat tebal dan total ketebalan batubara dapat sangat tinggi. Di dalam cekungan retro-arc, dua urutan pembawa batubara biasanya hadir. Suatu urutan basal terjadi dengan penumpukan marine transgresi. Bagian bawah dan atas lapisan berhubungan dengan kejadian regresi. Bagian atas satuan pembawa batubara biasanya yang paling tebal, mutu paling tinggi dan yang paling utama secara ekonomis.

Setting yang lainnya adalah, bagaimanapun, penting. coalfield Illinois di Amerika Serikat mempunyai suatu tatanan pengaturan intracratonic, dan coalfield Cekungan Kutai ( Kalimantan) dan Cekungan Gippsland (Australia) telah dibentuk pada rifted continental margin. Cekungan yang kecil, secara khas graben atau setengah-graben membentuk banyak coalfield yang mempunyai suatu arti lokal sangat pantas dipertimbangkan dan adalah basis beberapa area penambangan batubara penting ( sebagai contoh, Rhine Graben di Negara Jerman). Ketebalan Lapisan batubara bervariasi antara tatanan tektonik pada kedua-duanya dalam kaitan dengan rata-rata dan ketebalan maksimum. Variasi ini diringkas tabel 2.2. Ketebalan kasar Batubara ( Ketebalan dari semua seam ditambahkan bersama) adalah terbesar pada setting retro-arc. Kebanyakan dari lapisan pada setting ini tebal dan tipis secara komparatif jarang. Mereka cenderung untuk terjadi pada struktur yang tinggi. Urutan Marginal rift dapat mempunyai suatu ketebalan kasar batubara yang tinggi dan penempatan untuk beberapa lapisan yang sangat tebal.
Jarak intrakontinental mempunyai ketebalan kasar batubara yang sedang tetapi suatu proporsi yang tinggi dari lapisan adalah tebal (> sekitar 3 m). Graben yang terisolasi cenderung untuk mempunyai suatu ketebalan kasar batubara rendah tetapi jumlah lapisan yang tebal dapat tinggi. Perkecualian ke kecenderungan ini terjadi. Sebagai contoh, Rhine Graben mempunyai suatu ketebalan kasar batubara tinggi dan ketebalan pembawa batubara hadir. Dan sebaliknya, graben di NW Yunani berlimpah-limpah tetapi lapisan batubaranya tipis.

Batubara dibedakan secara sistematis dengan tatanan tektonik dalam kaitan dengan derajat batubara yang tersingkap. Mereka disebabkan oleh bermacam-macam sejumlah pengangkatan tektonis yang sudah terjadi yang berlanjut dengan maksimum burial. Pengangkatan adalah yang umum untuk cekungan dengan setting retro-arc, dan selalu berhubungan batubara ini cenderung untuk mempunyai derajat yang paling tinggi. Dengan celah marginal dan gap intra-continental, subsidence mungkin cukup untuk menyebabkan pengembangan dari sedang ke derajat tinggi tetapi pengangkatan zone derajat tinggi ke permukaan saat ini jarang. Cekungan Illinois adalah suatu Cekungan intra-continental dengan tingkat batubara sedang. Sabuk lipatan Samarinda pada Cekungan Kutai adalah salah satu minoritas contoh suatu cekungan marginal rift dimana batubara derajat sedang tersingkap di permukaan daratan saat ini.

Variasi pada aspek lain mutu batubara lebih sedikit mudah untuk diperkirakan dari dasar tatanan tektonik tetapi menunjukkan beberapa kecenderungan umum. Keberadaan dari kecenderungan ini adalah suatu fungsi keseimbangan sedimentasi dan faktor kemungkinan seperti transgresi yang dapat mempengaruhi mutu batubara.

Di dalam cekungan retro-arc, walaupun sedimentasi cenderung untuk menjadi cepat, zona separasi dari sedimentasi klastik dan pengendapan gambut biasanya secara relatif baik. Ini mengarah ke mineral dengan komposisi rendah. Pada jarak intra-continental, tingkat subsidence yang lebih lambat dapat mendorong kearah tingkat lebih tinggi ablasi peat ( hilangnya peat dalam kaitan dengan oksidasi dan erosi). Pada gilirannya, ini dapat mendorong kearah konsentrasi kandungan mineral di dalam peat, dan sebagai konsekwensinya, batubara.

Graben kecil biasanya tidak menunjukkan tingkat separasi yang tinggi antara peat dan sedimentasi klastik. Hal ini menuju kandungan mineral yang tinggi.

Kandungan sulfur pada umumnya dihubungkan dengan masuknya air laut, baik sepanjang pembentukan peat maupun segera setelah penyelesaian pengendapan peat tersebut. Masuknya air laut adalah yang paling umum pada cekungan retro-arc, terutama ke arah dasar rangkaian pembawa batubara.

3.2 Penyebaran Sumber Batubara
Batubara tidaklah tersebar secara merata dalam waktu atau ruang. Distribusi sumberdaya batubara oleh benua dan negeri dicakup pada bagian yang sebelumnya. Konsentrasi cadangan batubara yang paling besar terjadi di cekungan retro-arc seperti dari bagian atas Carboniferous di Eropa dan negara timur AS,cekungan retro-arc dengan Batubara berumur Kapur dan Jurassic berhubungan dengan peristiwa lipatan Laramide dekat Pegunungan Rocky, dan batubara berumur Permian dari cekungan kompleks Sydney Bowen Australia.

Batubara mencakup umur Akhir Devonian Ke Pleistocene dan peat berlimpah-limpah dibanyak bagian Dunia. Sejumlah batubara yang besar telah disimpan sepanjang bagian atas Carboniferous, bagian atas Permian, tersier. Pengendapan batubara dipengaruhi oleh garis lintang seperti halnya jenis tatanan tektonis.

SIFAT ALAMI DAN ASAL DARI BATUBARA
Batubara terdiri dari material tumbuhan yang telah terurai menjadi peat dan kemudian diubah oleh kenaikan temperatur dengan sedang di bawah tekanan kuat yang dibatasi. Peat mengandung air di atas 90% . Selama coalification, Kandungan air turun menjadi sekitar 1% di dalam batubara bituminus ranking tinggi. Dengan tambahan kandungan organik batubara mengandung mineral, material dalam solusion dan elemen selain karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dikombinasikan dengan kandungan organik.
Read rest of entry

Lingkungan Pengendapan Batubara part 1

Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi.

Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa).

Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.

Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.
Read rest of entry

" Udah lama gak nulis Blog Gw ini"

Sore..

Dah lm ni gw gk nulis di blog pribadi gw ini. Gw lama lama gak nulis coz gw lagi sibuk ngurus proposal Tugas akhir gw..hampir tiap hari gw kerumah Dosen pembimbing gw..Cape,Semangat,sakit,jengkel,senang, sedih,,,Gw alamai dlm pembuatan proposal gw..Oya proposal gw angkat judul tentang "Karakteristik Lapisan Pembawa Batubara" nama kerennya "Coal-Bearing Strata caracteristik",,,haha,,Proposal gw ini buka hanya proposal Tugas akhir, tapi juga proposal penelitian di bidang pertambangan, khsusnya di ilmu batubara,,,hehe,,

Meskipun msh banyak yg kurang dari proposal gw,,Gw harus tetap semangat membuatnya,mengerjakannya,mengkonsultasikannya,hingga nanti gw praktekkan dilapangan. Oya rencan gw brkt penelitian di kalimantan timur, kabupaten berau,,ntu baru rencana,,gak tahu ke depannya bgmn,,Doain yaa para blogger semua...hehehe...

Gw juga harus belajar banyak lagi untuk membackup diri gw. Untuk nanti bekal gw dilapangan supaya dalam penelitian gw ini,dapat berjalan dengan lancar dan berjalan sesuai apa yg gw harapkan nantinya.

Banyak bgt ilmu2 baru yg gw dpt dlm membuat proposal gw ini,,ya terutama dari dosen pembimbing ge,,Makasi Pak...hehehe...N yg terutama gw bisa dkt dengan Dosen yg hebat benar..hehehe....Gw harus semangat terus bwt Tugas Akhir gw,,,Jgn pernah mengeluh n semangat trs pantang menyerah!!!!!!!!!!!,,,,SEMANGAT!!!,,,,

Udh dulu ahh nulisnya bwt hari ini,,sore ini,,waktu sekian,,detik sekian,,terima kasih,,,,,hahahahaha,,,,
Read rest of entry
 

About Me

Foto saya
Perkenalkan saya adalah Mahasiswa disalah satu Universitas swasta yang berada di Yogyakarta. Saya senang menulis di blog yg saya kelola sekarang, blog saya masih banyak kekurangannya, jadi harap maklum.Karena saya juga masih belajar-belajar juga. Saya juga senang dengan hal-hal yang menantang andrenalin dan hal-hal yang baru. saya adalah manusia yang simple..Simple is my life...hahaha..

My Blog List

Term of Use